Sunday, November 2, 2014

Cara meningkatkan karisma

Membaca sebuah artikel di PT jadi tertarik menuliskannya kembali agar dapat tertanam lebih dalam (walaupun lebih dalam klo ditulis tangan sih).

Menurut artikel tersebut berdasarkan sebuah penelitian University of Lausanne Business School, ada beberapa taktik yang diidentifikasi yang dapat cukup mudah dipelajari, diambil dan dipraktekkan, yaitu:


  1. Gunakanlah Metafora, metafora karismatik karena hal tersebut dapat membolak-balikkan emosi dan imaginasi orang-orang.
  2. Gunakanlah Cerita atau cerita singkat, cerita pribadi dapat memberikan efek yang sangat besar pada segala penyampaian, terutama bila hal tersebut menyangkut kesulitan-kesulitan awal hidup dan tantangan serta bagaimana kita melampauinya.
  3. Tunjukkan kesungguhan moral, moral mensignifikan pesan-pesan kita menjadi lebih berarti. dengan menunjukkan kepada "Hal yang harusnya dilakukan", kita akan mendorong suatu nilai bersama yang mendasar yang dapat membuat orang mengambil aksi.
  4. Tunjukkan perasaan yang sama seperti apa yang orang lain rasakan. dengan memperlihatkan bahwa apa yang kita rasakan sama dengan yang orang lain rasakan, hal tersebut akan menambah identifikasi mereka pada kita.
  5. Berekspektasi tinggi dan komunikasikan kepercayaan diri, dengan berekspektasi tinggi terhadap diri sendiri dan orang lain, kita akan menginspirasi orang-orang yang ada disekitar kita untuk menjadi lebih dari yang sekarang. tapi tidak cukup hanya dengan berekspektasi tinggi, kita juga harus membuat orang lain tahu jika kita percaya mereka.
  6. Gunakanlah perbandingan yang sangat berlawanan untuk memberi batas dan fokus pada pesan. Contrasting merupakan alat retorika yang sangat kuat karena memberikan sebuah Penekanan.
  7. Gunakanlah List. penggunaan list melejitkaan karisma karena hal teersebut memberikan impresi keutuhaan. menunjukkan pesan yang tersampaikan sebagai suatu yang menyambungkan pemahaman dari sebuah isu. sehingga kita memposisikan diri sebagai seorang ahli dari sebuah topik yang penuh misteri.
  8. Gunakanlah pertanyaan retoris.  pertanyaan retoris menarik orang kedalam pesan kita dan membuat orang lain seolah menunggu sesuatu.
  9. Gunakan Strategi nonverbal untuk menghidupkan kata-kata yang kita ucapkan. dengan memberikan "nyawa" melalui bahasa tubuh, kita membuat orang berpartisipasi. gestur, ekspresi wajah, dan intonasi yang menunjukkan passion akan meninggalkan impresi yang berkesan.

Tuesday, October 21, 2014

Apa itu kebajikan? apa itu kebaikan?

entah kenapa beberapa waktu terakhir pikiran melayang pada kisaran apa yang baik yang dapat kulakukan? apa yang sebaiknya ku lakukan? apakah ini benar atau salah..

pertanyaan yang main membuatku mempertanyakan apa yang aku percaya dan ingin ku percaya.

sampai aku menemukan bahwa munculnya pertanyaan ini berarti aku mulai terputus dari wahyu, seringkali ku masih diingatkan untuk kembali ke jalan yang benar, tetapi jadi sulit juika keduniawian mulai melekat di hati. saat tahu ilmunya tapi tidak dapat melakukannya dosanya berganda tetapi saat tidak tahu bagaimana akan memulai mengerjakannya dengan benar, sedangkan sebuah kewajiban bagi kita untuk mencari tahu hukum perihal apapun hal kita lakukan.

dari pertanyaan tersebut tanpa sengaja aku menemukan bacaan tentang apa itu kebajikan yang perlu dilakukan dan dipikirkan supaya dapat berada dalam jalan yang benar. sedikit mengkopi dari buku ihya ulumuddin karya Al-Ghazali:

Pertama, aku melihat sekelilingku dan memperhatikan bahwa setiap orang mempunyai objek cinta serta kekasih masing-masing, dan tetap ingin terus  bersama denggan ang dicintaainya itu hinggaa ke liang lahat. ketika memasuki alam kubur, ia pun dipaksa untuk berpisah dengan yang dicintainya itu. karena itu aku menjadikan amal baikku sebagai objek cinta. hingga saat aku meninggal dunia nanti, amal baikku aakan menyertaiku masuk ke alam kubur.

Kedua, "Dan adapun oraang yang takut kepada kebesaaran Rabbnya, serta menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, maka sesungguhnya surgalah tempat tinggalnya," (QS Al-Nazi'at [79]: 40-41). kemudian aku sadar, bahwa firman Allah swt. pastilaah kebenarannya. kemudian aku berjuang keras untuk menahan nafsuku, dan aku merasa puas dengan bersikap taat kepaada-Nya.

Ketiga, aku memperhatikan manusiaa di sekelilingku, dan mendapati bahwa mereka menghargai apa ssaja yang dimilikinya. lalu aku mengkaji firman Allah swt berikut ini,
"Apa yang ada di sisimu akan lenyap, dan yang berada di sisi Allah pasti kekal," (QS Al-Nahl [16]:96

oleh karena itu, aku persembahkan hanya kepada Allah swt. apa saja yang berada dalam penguasaanku.

keempat, aku memperhatikan manusia disekelilingku, dan menyaksikan mereka menggantungkan diri pada harta benddaa dunia, nama besar, kemasyhuran, kehormatan serta kemuliaannya. dan aku mendapaati semua itu tidak berarti apa-apa, terutama saat aku merenungkan makna ddari firman Allah, "sesungguhnya yang termulia diantara kalian pada sisi Allaah adalah siaapa yang paling bertaakwa" (QS Al-Hujurat[49]:13)

oleh karena itu, aku meningkatkan kualitaas ketakwaanku kepada Allah Swt dalam hidup ini, hinggaa aku menjadi orang yang dimuliakaan serta diridhai-Nya.

Kelima, aku memandang maanusia disekelilingku, dan aku mendapati bahwa mereka saaling menikam serta mengutukk dadri belaakang antara satu dengan lainnya, disebabkan rasa dengki dan perasaaan benci yang kerap mendera qalbu mereka. kemudian aku memperhatikan firmaan Allat swt. "Kami 9Allah) elah membagi-bagikan penghidupan di antaara mereka  dalam kehidupan di alam dunia ini," (QSS Al-Zukhruf [43]: 32).

Oleh karena itu, ssegeraa ku tinggalkaan  rasa dengki serta rasa benci, untuk bisa menyadari bahwa rezeki seluruh makhluk ini ditetapkan berasaal dari sisi Allah swt, dan aku agak menjaga jarak dari manusia yang terlalu mempersoalkannya.

keenam, aku memperhatikan manusia disekitarku, dan mendapati bahwa mereka saling berbuat durhaka antara satu dengan yang lain. bahkan, banyak di antara mereka saling membunuh demi alasan yang sama seklai jauh dari kebenaran. lalu aku mendalami makna firman Allah swt, " sesungguhnya setan itu adalah musuh yang sejati abgi kalian. oleh karena itu, perlakukanlah ia sebagai musuh," (QS Fathir [35]: 6).

karenanya, sejak saat itu aku telah menjadikan setan sebagai musuh utamaku, dan tidak lagi memusihu sesama manusia.

ketujuh, aku menyaksikan manusia disekelilingku, dan mendapati mereka mencari penghidupan masing-masing. namun, untuk bisa mencapai tujuan yang dimaksud, mereka bersedia menghinakan diri sendiri dan melakukan hal-hal yang dilarang oleh aturan agama. kemudian aku mencermati makna firman Allah Swt, "dan tidak ada satu binatang melata pun dipermukaan bumi ini, melainkan Allah yang akan memberi rezekinya.

kedelapan, aku memperhatikan manusia disekitarku, dan mendapai bahwa setiap orang cenderung bergantung pada makhluk. sebagian dari mereka bergantung pada harta kekayaan,pekejaan, perusahaan, dan sebagian lainnya pada kesehatan fisik.kemudian aku mencoba untuk mengahyati makna firman Allah swt, "dan siapa saja yang bertawakal hanya kepada Allah, niscaya akan mencukupkan keperluannya," (QS Al-Thalaq [65]:3).

oleh karena itu, aku segera bersandar dan bertawakal diri hanya kepada ALlah Swt. semata. sebab, hanya dia, dan itu sudah cukup bagiku.



membaca hal itu membuatku teringat kembali dan kembali memperhatikan sekelilingku dan  termasuk juga diriku....


Sumber: Ihya Ulumuddin karya Al-Ghazali, galaman 152-154, terjemahan terbitan republika

Monday, October 13, 2014

Lari-lari dan lari

sejak semalam aku merasa ingin lari, menghabiskan energi sisa yang tak terpakai beberapa waktu ini.
hingga keinginan itu terbawa kedalam mimpi..

mimpi dimulai keika saya tersadar bahwa saya berada didalam mimpi telah menggunakaan pakaian dan sepatu lari berserta tag peserta lomba lari. dan tampak dikejauhan kerumunan orang beserta banner lomba.

akupun memutuskan untuk menuju kesana. disana ku diberitahu bahwa lomba sudah dimulai dan diminta untuk segera menyusul saja, karena memang belum terlalu jauh dari rombngan, kemudian aku diberi sebuah peta berisikan jalur dan titik yang harus dilewati. akupun membacanya sejenak dan mulai kuberlari dengan kompas dikanan dan peta dikiri.

berlari

berlari

berlari

aku merasakan lari begitu panjang namun tak kunjung menemui rombongan paling depan. semakin lama ku berlari dijalan yang bercampur antara aspal, kon blok, rumput, pasir dan tanah, semakin tersadar pula aku berada didalam mimpi dan mulai bisa mengendalikan tubuh daripada hanya menonton saja. setelah itu langsung ku ubah gaya lari dan cara bernafasku untuk mendapatkan kecepatan lebih tinggi, tak berapa lama ku mulai melewati peserta demi peserta lain hingga akhirnya aku dapat melewati peserta terdepan.

dan aku meninggalkannya cukup jauh. sayang, entah bagaimana saya membaca peta, dan mengikuti satu jalur yang melewati pekuburan dan gang kecil dengan dinding tinggi disebelah kanan dan sungai disebelah kiri. mengikuti peta, belokan kedua saya berbelok ke kiri untuk menyebrangi sungai, tapi ternyata terdapat sebuah gerbang besi penghalang berwarna hitam menghalangiku, terkunci. aku pikir aku bisa memanjatnya dan melewatinya tapi ternyata saat ku liat dari atas, jembatan yang terbuat dari kayu yang dikaitkan ke tali tersebut telah hancur berantakan, mengetahui itu aku kembali turun dan mengulang jalur yang telah ku lewati dan mencari jalan menyebrang lainnya.

saat ku coba susuri kembali sungai kulihat beberapa peserta telah melewati sungai tersebut, ku berhenti sejenak membaca peta mencoba mencari celah untuk menyebrang. kulihat jarak terkecil sungai ada di beberapa ratus meter setelah tempat gerbang yang tertutup tadi. aku berlari dengan kembali dengan kecepatan yang bahkan dalam mimpi membuatku terengah-engah.

sesampainya disana pun kulihat jembatan yang usdah raapuh dan berlubang namun masih disangga oleh tali dan kawat besi yang cukup kuat. jarak sungai memang tak terlalu lebar tetapi arusnya cukup deras dan tampak dalam. tak mau kalah akupun nekad melewatinya, dan entah mengapa aku merasaa sudah sangat sering melewati jembatan ini, dibeberapa mimpi lain.

setelah melewati dengan hati-hati, akhirnya aku sampai diseberang, aku merasa agak lelang dan pusing. ku paksaa diri ini berlari lewati batas karena ku tahu ini hanya mimpi. aku mulai berlari dengan ke empat tungkaiku, mencapai  kecepatan yang luaar biasa, menghabiskaan energi pikiran dan tubuhku. orang terdepan makin terlihat, tapi tidak sampai dapat kukejar karena garis finis yang berupa balon yang ditempel diketinggian dijangkaunya terlebih dahulu.

Merasa seolah selalu jadi nomor 2, farmiliar dengan sang juara, akupun hanya melipir menjauhi kerumunan dan pergi kesebuah pintu yang setelah kumasuki aku terbangun dari mimpiku.

Saturday, August 23, 2014

LifeHacks

Travel & Transport: Remove Tourists From Vacation Photos

1. Put your camera on a tripod.

2. Take about 15 pictures -- one about every 10 seconds.

3. Open them all in Photoshop from File -> Scripts -> Statistics.

4. Choose "Median."
recipriversexcluson

Use Incognito Browsing For Cheap Tickets

If you want to buy the cheapest airline tickets online, use your browser's incognito mode.  The reason this works is because websites use cookies to track your browsing habits and searches. If you find a cheap ticket but browse the web before buying, your initial "cheap" ticket is going to cost more. Same goes for paywalls on news websites.
tiradium

Make Your Own Ice Pack

A frozen, saturated sponge in a bag makes an ice pack that won't drip all over when it melts. 
eyesoftheworld4

Use Post-It Notes To Clean Between Your Keyboard Keys

Before you throw away a Post-It, run it between the keys on your keyboard to collect crumbs and fluff.

Use A Pants Hanger To Hold Open A Magazine Or Cookbook

Need an inexpensive cookbook holder? Try a pants hanger! It would also work for single pages of printed recipes.
commander_shep

Use Baby Oil Before You Leave The Shower To Soften Your Skin

Put a little baby oil (the vitamin E kind is a plus) on limbs/body two minutes before getting out of the shower. The smell will rinse away but the moisture won't. You will be soft as sh*t ALL day, never needing lotion again. And, yes, your girlfriend/boyfriend will notice. 

I've been doing this for a few years and now all my friends are on board. Lotion is expensive as sh*t these days, don't waste your $$. You'll thank me for this tip during a harsh winter.
evangelosg


Thursday, July 24, 2014

Tujuan kita ada di dunia

pertanyaan yang seolah ringan namun berat untuk menjawabannya..

secara umum memang manusia ini diciptakan untuk beribadah kepada Allah SWT dan menjadi khalifah dimuka bumi..

tapi secara khusus apa tujuan tiap kita hidup, pasti ada hal khusus yang secara khusus harus kita lakukan dan hanya kita yang dapat melakukannya..

sesekali ada orang yang menyebutkan kalau tujuan hidup kita adalah passion kita..

jadi apakah passion itu.. tak ada defini yang jelas tentang itu.. banyak yang mencari namun sedikit yang benar-benar mencari dan lebih sedikit lagi yang benar-benar menenumkan passionnya, tujuan hidupnya..

passion banyak diartikan sebagai sesuatu yang kita dapat melakukannya terus menerus dalam jangka waktu panjang dan tanpa banyak memikirkan tentang masalah finansial, sesuatu yang kita dapat merelakan waktu, tenaga dan finansial disana sertaa dengan penuh kerelaan dan keikhlasan..

pencarianku tentang passionku sendiripun masih belum menuju pada 1 titik akhir, masih ada ditengah pencarian.. namun dari beberapa waktu ini paling tidak aku mendapatkan gambaran tentaang kemana waktu, tenaga dan finansialku mengalir dan dengan senang hati melakukannya, mengabaikan apa yang dikatakan orang entah itu bagus atau tidak..

hal yang paling suka ku lakukan dan aku banyak melakukaannya adalah berbagi, bercerita, menjelaskan dan  berdiskusi, memberi inspirasi dan berkreasi.. yang mana hal tersebut jika diambil benang merahnya adalah

I Really Want To Be A Storyteller
Storyteller dapat menyembuhkan orang dan menginspirasi orang untuk berbuat lebih dan lebih dari yang kini, selain itu Storyteller memiliki banyak hikmah dan khazanah untuk dibagikaan kebanyak orang melalui banyak cerita, dapat masuk ke multi segmen dan menjadi pencerita yang baik berarti adalah menjaadi pendengar yang baik untuk mendapatkan cerita atau kisah dari orang lain yang kemudian diolah secara kreatif untuk dapat sampai keorang lain melalui media-media kreatif yang ada..

Monday, July 21, 2014

Beginilah jadi orang yang terlalu sensitif

kadang sulit memang menjadi orang yang lebih sensitif dari yang lain
bisa melihat apa yang tidak bisa orang lain lihatbisa mengecap apa yang orang lain tidak bisa ecapbisa mendengar apa yang orang lain tidak bisa dengar dan bisa merasakan apa yang orang lain tidak bisa rasakan
 Pada kesehariannya seperti saat melihat suatu ketidakadilan ataupun perilaku yang dapat menyakiti orang lain, tiba-tiba akan datang perasaan emosi yang kuat muncul dari dalam diri. namun seringkali saat berusaha untuk menyampaikannya pada orang lain untuk mengerti dan paham, banyak orang yang mengatakan bahwa hal tersebut berlebihan atau terlalu aneh. pada akhirnya diri ini hanya dapat mundur, merasa malu, terkadang marah atau hanya merasa menjadi terlihat nampak sebagai pusat perhatian. seringkali dengan mudah dapat melihat masalah direncana orang lain, jika ku hanya diam seringkali hal tersebut berakhir buruk, tapi kalau berusaha menyampaikan dilihat sebagai orang yang pesimis, dianggap oposisi atau terlalu kritis.

Masih perlu perjalanan dan pelajaran yang panjang untuk dapat memaksimalkan kemampuan bermata dua ini, belajar untuk menggunakan sensitivitas ini untuk sekedar tahu apa yang sebaiknya dikatakan dengan komposisi yang pas agar suara dan persepsi ini didengar
 

Thursday, July 17, 2014

IPIP-NEO Report for Syanmil

Summary

Openness FacetsYour score on Openness to Experience is average, indicating you enjoy tradition but are willing to try new things. Your thinking is neither simple nor complex. To others you appear to be a well-educated person but not an intellectual.

  • My level of imagination is high.
  • My level of artistic interests is high.
  • My level of emotionality is high.
  • My level of adventurousness is low.
  • My level of intellect is high.
  • My level of liberalism is low.

Conscientiousness FacetsYour score on Conscientiousness is average. This means you are reasonably reliable, organized, and self-controlled.

  • My level of self-efficacy is high.
  • My level of orderliness is low.
  • My level of dutifulness is average.
  • My level of achievement striving is average
  • My level of self-discipline is low
  • My level of cautiousness is high.

Extraversion FacetsYour score on Extraversion is average, indicating you are neither a subdued loner nor a jovial chatterbox. You enjoy time with others but also time alone.
  • My level of friendliness is average.
  • My level of gregariousness is low.
  • My level of assertiveness is average.
  • My activity level is average.
  • My level of excitement-seeking is average.
  • My level of positive emotions is high.
Agreeableness FacetsYour level of Agreeableness is average, indicating some concern with others' Needs, but, generally, unwillingness to sacrifice yourself for others.
  • My level of trust is average.
  • My level of morality is low
  • My level of altruism is high.
  • My level of compliance is average.
  • My level of modesty is low.
  • My level of tender-mindedness is high.
Neuroticism FacetsYour score on Neuroticism is average, indicating that your level of emotional reactivity is typical of the general population. Stressful and frustrating situations are somewhat upsetting to you, but you are generally able to get over these feelings and cope with these situations.

  • My level of anxiety is high.
  • My level of anger is low.
  • My level of depression is average.
  • My level or self-consciousness is high.
  • My level of immoderation is average.
  • My level of vulnerability is high.


Extraversion


Extraversion is marked by pronounced engagement with the external world. Extraverts enjoy being with people, are full of energy, and often experience positive emotions. They tend to be enthusiastic, action-oriented, individuals who are likely to say "Yes!" or "Let's go!" to opportunities for excitement. In groups they like to talk, assert themselves, and draw attention to themselves.

Introverts lack the exuberance, energy, and activity levels of extraverts. They tend to be quiet, low-key, deliberate, and disengaged from the social world. Their lack of social involvement should not be interpreted as shyness or depression; the introvert simply needs less stimulation than an extravert and prefers to be alone. The independence and reserve of the introvert is sometimes mistaken as unfriendliness or arrogance. In reality, an introvert who scores high on the agreeableness dimension will not seek others out but will be quite pleasant when approached.



Extraversion FacetsYour score on Extraversion is average, indicating you are neither a subdued loner nor a jovial chatterbox. You enjoy time with others but also time alone.


  • Friendliness. Friendly people genuinely like other people and openly demonstrate positive feelings toward others. They make friends quickly and it is easy for them to form close, intimate relationships. Low scorers on Friendliness are not necessarily cold and hostile, but they do not reach out to others and are perceived as distant and reserved. Your level of friendliness is average.
  • Gregariousness. Gregarious people find the company of others pleasantly stimulating and rewarding. They enjoy the excitement of crowds. Low scorers tend to feel overwhelmed by, and therefore actively avoid, large crowds. They do not necessarily dislike being with people sometimes, but their need for privacy and time to themselves is much greater than for individuals who score high on this scale. Your level of gregariousness is low.
  • Assertiveness. High scorers Assertiveness like to speak out, take charge, and direct the activities of others. They tend to be leaders in groups. Low scorers tend not to talk much and let others control the activities of groups. Your level of assertiveness is average.
  • Activity Level. Active individuals lead fast-paced, busy lives. They move about quickly, energetically, and vigorously, and they are involved in many activities. People who score low on this scale follow a slower and more leisurely, relaxed pace. Your activity level is average.
  • Excitement-Seeking. High scorers on this scale are easily bored without high levels of stimulation. They love bright lights and hustle and bustle. They are likely to take risks and seek thrills. Low scorers are overwhelmed by noise and commotion and are adverse to thrill-seeking. Your level of excitement-seeking is average.
  • Cheerfulness. This scale measures positive mood and feelings, not negative emotions (which are a part of the Neuroticism domain). Persons who score high on this scale typically experience a range of positive feelings, including happiness, enthusiasm, optimism, and joy. Low scorers are not as prone to such energetic, high spirits. Your level of positive emotions is high.

Agreeableness

Agreeableness reflects individual differences in concern with cooperation and social harmony. Agreeable individuals value getting along with others. They are therefore considerate, friendly, generous, helpful, and willing to compromise their interests with others'. Agreeable people also have an optimistic view of human nature. They believe people are basically honest, decent, and trustworthy.

Disagreeable individuals place self-interest above getting along with others. They are generally unconcerned with others' well-being, and therefore are unlikely to extend themselves for other people. Sometimes their skepticism about others' motives causes them to be suspicious, unfriendly, and uncooperative.

Agreeableness is obviously advantageous for attaining and maintaining popularity. Agreeable people are better liked than disagreeable people. On the other hand, agreeableness is not useful in situations that require tough or absolute objective decisions. Disagreeable people can make excellent scientists, critics, or soldiers.



Agreeableness FacetsYour level of Agreeableness is average, indicating some concern with others' Needs, but, generally, unwillingness to sacrifice yourself for others.


  • Trust. A person with high trust assumes that most people are fair, honest, and have good intentions. Persons low in trust see others as selfish, devious, and potentially dangerous. Your level of trust is average.
  • Morality. High scorers on this scale see no need for pretense or manipulation when dealing with others and are therefore candid, frank, and sincere. Low scorers believe that a certain amount of deception in social relationships is necessary. People find it relatively easy to relate to the straightforward high-scorers on this scale. They generally find it more difficult to relate to the unstraightforward low-scorers on this scale. It should be made clear that low scorers are not unprincipled or immoral; they are simply more guarded and less willing to openly reveal the whole truth. Your level of morality is low.
  • Altruism. Altruistic people find helping other people genuinely rewarding. Consequently, they are generally willing to assist those who are in need. Altruistic people find that doing things for others is a form of self-fulfillment rather than self-sacrifice. Low scorers on this scale do not particularly like helping those in need. Requests for help feel like an imposition rather than an opportunity for self-fulfillment. Your level of altruism is high.
  • Cooperation. Individuals who score high on this scale dislike confrontations. They are perfectly willing to compromise or to deny their own needs in order to get along with others. Those who score low on this scale are more likely to intimidate others to get their way. Your level of compliance is average.
  • Modesty. High scorers on this scale do not like to claim that they are better than other people. In some cases this attitude may derive from low self-confidence or self-esteem. Nonetheless, some people with high self-esteem find immodesty unseemly. Those who are willing to describe themselves as superior tend to be seen as disagreeably arrogant by other people. Your level of modesty is low.
  • Sympathy. People who score high on this scale are tenderhearted and compassionate. They feel the pain of others vicariously and are easily moved to pity. Low scorers are not affected strongly by human suffering. They pride themselves on making objective judgments based on reason. They are more concerned with truth and impartial justice than with mercy. Your level of tender-mindedness is high.

Conscientiousness

Conscientiousness concerns the way in which we control, regulate, and direct our impulses. Impulses are not inherently bad; occasionally time constraints require a snap decision, and acting on our first impulse can be an effective response. Also, in times of play rather than work, acting spontaneously and impulsively can be fun. Impulsive individuals can be seen by others as colorful, fun-to-be-with, and zany.

Nonetheless, acting on impulse can lead to trouble in a number of ways. Some impulses are antisocial. Uncontrolled antisocial acts not only harm other members of society, but also can result in retribution toward the perpetrator of such impulsive acts. Another problem with impulsive acts is that they often produce immediate rewards but undesirable, long-term consequences. Examples include excessive socializing that leads to being fired from one's job, hurling an insult that causes the breakup of an important relationship, or using pleasure-inducing drugs that eventually destroy one's health.

Impulsive behavior, even when not seriously destructive, diminishes a person's effectiveness in significant ways. Acting impulsively disallows contemplating alternative courses of action, some of which would have been wiser than the impulsive choice. Impulsivity also sidetracks people during projects that require organized sequences of steps or stages. Accomplishments of an impulsive person are therefore small, scattered, and inconsistent.

A hallmark of intelligence, what potentially separates human beings from earlier life forms, is the ability to think about future consequences before acting on an impulse. Intelligent activity involves contemplation of long-range goals, organizing and planning routes to these goals, and persisting toward one's goals in the face of short-lived impulses to the contrary. The idea that intelligence involves impulse control is nicely captured by the term prudence, an alternative label for the Conscientiousness domain. Prudent means both wise and cautious. Persons who score high on the Conscientiousness scale are, in fact, perceived by others as intelligent.

The benefits of high conscientiousness are obvious. Conscientious individuals avoid trouble and achieve high levels of success through purposeful planning and persistence. They are also positively regarded by others as intelligent and reliable. On the negative side, they can be compulsive perfectionists and workaholics. Furthermore, extremely conscientious individuals might be regarded as stuffy and boring. Unconscientious people may be criticized for their unreliability, lack of ambition, and failure to stay within the lines, but they will experience many short-lived pleasures and they will never be called stuffy.



Conscientiousness FacetsYour score on Conscientiousness is average. This means you are reasonably reliable, organized, and self-controlled.


  • Self-Efficacy. Self-Efficacy describes confidence in one's ability to accomplish things. High scorers believe they have the intelligence (common sense), drive, and self-control necessary for achieving success. Low scorers do not feel effective, and may have a sense that they are not in control of their lives. Your level of self-efficacy is high.
  • Orderliness. Persons with high scores on orderliness are well-organized. They like to live according to routines and schedules. They keep lists and make plans. Low scorers tend to be disorganized and scattered. Your level of orderliness is low.
  • Dutifulness. This scale reflects the strength of a person's sense of duty and obligation. Those who score high on this scale have a strong sense of moral obligation. Low scorers find contracts, rules, and regulations overly confining. They are likely to be seen as unreliable or even irresponsible. Your level of dutifulness is average.
  • Achievement-Striving. Individuals who score high on this scale strive hard to achieve excellence. Their drive to be recognized as successful keeps them on track toward their lofty goals. They often have a strong sense of direction in life, but extremely high scores may be too single-minded and obsessed with their work. Low scorers are content to get by with a minimal amount of work, and might be seen by others as lazy. Your level of achievement striving is average.
  • Self-Discipline. Self-discipline-what many people call will-power-refers to the ability to persist at difficult or unpleasant tasks until they are completed. People who possess high self-discipline are able to overcome reluctance to begin tasks and stay on track despite distractions. Those with low self-discipline procrastinate and show poor follow-through, often failing to complete tasks-even tasks they want very much to complete. Your level of self-discipline is low.
  • Cautiousness. Cautiousness describes the disposition to think through possibilities before acting. High scorers on the Cautiousness scale take their time when making decisions. Low scorers often say or do first thing that comes to mind without deliberating alternatives and the probable consequences of those alternatives. Your level of cautiousness is high.

Neuroticism

Freud originally used the term neurosis to describe a condition marked by mental distress, emotional suffering, and an inability to cope effectively with the normal demands of life. He suggested that everyone shows some signs of neurosis, but that we differ in our degree of suffering and our specific symptoms of distress. Today neuroticism refers to the tendency to experience negative feelings. Those who score high on Neuroticism may experience primarily one specific negative feeling such as anxiety, anger, or depression, but are likely to experience several of these emotions. People high in neuroticism are emotionally reactive. They respond emotionally to events that would not affect most people, and their reactions tend to be more intense than normal. They are more likely to interpret ordinary situations as threatening, and minor frustrations as hopelessly difficult. Their negative emotional reactions tend to persist for unusually long periods of time, which means they are often in a bad mood. These problems in emotional regulation can diminish a neurotic's ability to think clearly, make decisions, and cope effectively with stress.

At the other end of the scale, individuals who score low in neuroticism are less easily upset and are less emotionally reactive. They tend to be calm, emotionally stable, and free from persistent negative feelings. Freedom from negative feelings does not mean that low scorers experience a lot of positive feelings; frequency of positive emotions is a component of the Extraversion domain.



Neuroticism FacetsYour score on Neuroticism is average, indicating that your level of emotional reactivity is typical of the general population. Stressful and frustrating situations are somewhat upsetting to you, but you are generally able to get over these feelings and cope with these situations.


  • Anxiety. The "fight-or-flight" system of the brain of anxious individuals is too easily and too often engaged. Therefore, people who are high in anxiety often feel like something dangerous is about to happen. They may be afraid of specific situations or be just generally fearful. They feel tense, jittery, and nervous. Persons low in Anxiety are generally calm and fearless. Your level of anxiety is high.
  • Anger. Persons who score high in Anger feel enraged when things do not go their way. They are sensitive about being treated fairly and feel resentful and bitter when they feel they are being cheated. This scale measures the tendency to feel angry; whether or not the person expresses annoyance and hostility depends on the individual's level on Agreeableness. Low scorers do not get angry often or easily. Your level of anger is low.
  • Depression. This scale measures the tendency to feel sad, dejected, and discouraged. High scorers lack energy and have difficult initiating activities. Low scorers tend to be free from these depressive feelings. Your level of depression is average.
  • Self-Consciousness. Self-conscious individuals are sensitive about what others think of them. Their concern about rejection and ridicule cause them to feel shy and uncomfortable abound others. They are easily embarrassed and often feel ashamed. Their fears that others will criticize or make fun of them are exaggerated and unrealistic, but their awkwardness and discomfort may make these fears a self-fulfilling prophecy. Low scorers, in contrast, do not suffer from the mistaken impression that everyone is watching and judging them. They do not feel nervous in social situations. Your level or self-consciousness is high.
  • Immoderation. Immoderate individuals feel strong cravings and urges that they have have difficulty resisting. They tend to be oriented toward short-term pleasures and rewards rather than long- term consequences. Low scorers do not experience strong, irresistible cravings and consequently do not find themselves tempted to overindulge. Your level of immoderation is average.
  • Vulnerability. High scorers on Vulnerability experience panic, confusion, and helplessness when under pressure or stress. Low scorers feel more poised, confident, and clear-thinking when stressed. Your level of vulnerability is high.

Openness to Experience

Openness to Experience describes a dimension of cognitive style that distinguishes imaginative, creative people from down-to-earth, conventional people. Open people are intellectually curious, appreciative of art, and sensitive to beauty. They tend to be, compared to closed people, more aware of their feelings. They tend to think and act in individualistic and nonconforming ways. Intellectuals typically score high on Openness to Experience; consequently, this factor has also been called Culture or Intellect. Nonetheless, Intellect is probably best regarded as one aspect of openness to experience. Scores on Openness to Experience are only modestly related to years of education and scores on standard intelligent tests.

Another characteristic of the open cognitive style is a facility for thinking in symbols and abstractions far removed from concrete experience. Depending on the individual's specific intellectual abilities, this symbolic cognition may take the form of mathematical, logical, or geometric thinking, artistic and metaphorical use of language, music composition or performance, or one of the many visual or performing arts. People with low scores on openness to experience tend to have narrow, common interests. They prefer the plain, straightforward, and obvious over the complex, ambiguous, and subtle. They may regard the arts and sciences with suspicion, regarding these endeavors as abstruse or of no practical use. Closed people prefer familiarity over novelty; they are conservative and resistant to change.

Openness is often presented as healthier or more mature by psychologists, who are often themselves open to experience. However, open and closed styles of thinking are useful in different environments. The intellectual style of the open person may serve a professor well, but research has shown that closed thinking is related to superior job performance in police work, sales, and a number of service occupations.



Openness FacetsYour score on Openness to Experience is average, indicating you enjoy tradition but are willing to try new things. Your thinking is neither simple nor complex. To others you appear to be a well-educated person but not an intellectual.


  • Imagination. To imaginative individuals, the real world is often too plain and ordinary. High scorers on this scale use fantasy as a way of creating a richer, more interesting world. Low scorers are on this scale are more oriented to facts than fantasy. Your level of imagination is high.
  • Artistic Interests. High scorers on this scale love beauty, both in art and in nature. They become easily involved and absorbed in artistic and natural events. They are not necessarily artistically trained nor talented, although many will be. The defining features of this scale are interest in, and appreciation of natural and artificial beauty. Low scorers lack aesthetic sensitivity and interest in the arts. Your level of artistic interests is high.
  • Emotionality. Persons high on Emotionality have good access to and awareness of their own feelings. Low scorers are less aware of their feelings and tend not to express their emotions openly. Your level of emotionality is high.
  • Adventurousness. High scorers on adventurousness are eager to try new activities, travel to foreign lands, and experience different things. They find familiarity and routine boring, and will take a new route home just because it is different. Low scorers tend to feel uncomfortable with change and prefer familiar routines. Your level of adventurousness is low.
  • Intellect. Intellect and artistic interests are the two most important, central aspects of openness to experience. High scorers on Intellect love to play with ideas. They are open-minded to new and unusual ideas, and like to debate intellectual issues. They enjoy riddles, puzzles, and brain teasers. Low scorers on Intellect prefer dealing with either people or things rather than ideas. They regard intellectual exercises as a waste of time. Intellect should not be equated with intelligence. Intellect is an intellectual style, not an intellectual ability, although high scorers on Intellect score slightly higher than low-Intellect individuals on standardized intelligence tests. Your level of intellect is high.
  • Liberalism. Psychological liberalism refers to a readiness to challenge authority, convention, and traditional values. In its most extreme form, psychological liberalism can even represent outright hostility toward rules, sympathy for law-breakers, and love of ambiguity, chaos, and disorder. Psychological conservatives prefer the security and stability brought by conformity to tradition. Psychological liberalism and conservatism are not identical to political affiliation, but certainly incline individuals toward certain political parties. Your level of liberalism is low.

INFP based on MTBI test for entertaining purpose

INFPIdealistic, loyal to their values and to people who are important to them. Want an external life that is congruent with their values. Curious, quick to see possibilities, can be catalysts for implementing ideas. Seek to understand people and to help them fulfill their potential. Adaptable, flexible, and accepting unless a value is threatened.


Introversion (I)I like getting my energy from dealing with the ideas, pictures, memories, and reactions that are inside my head, in my inner world. I often prefer doing things alone or with one or two people I feel comfortable with. I take time to reflect so that I have a clear idea of what I’ll be doing when I decide to act. Ideas are almost solid things for me. Sometimes I like the idea of something better than the real thing.


Intuition (N)Paying the most attention to impressions or the meaning and patterns of the information I get. I would rather learn by thinking a problem through than by hands-on experience. I’m interested in new things and what might be possible, so that I think more about the future than the past. I like to work with symbols or abstract theories, even if I don’t know how I will use them. I remember events more as an impression of what it was like than as actual facts or details of what happened.


Feeling (F)I believe I can make the best decisions by weighing what people care about and the points-of-view of persons involved in a situation. I am concerned with values and what is the best for the people involved. I like to do whatever will establish or maintain harmony. In my relationships, I appear caring, warm, and tactful.


Perceiving (P)I use my perceiving function (whether it is Sensing or Intuition) in my outer life. To others, I seem to prefer a flexible and spontaneous way of life, and I like to understand and adapt to the world rather than organize it. Others see me staying open to new experiences and information.Since this pair only describes what I prefer in the outer world, inside I may feel very planful or decisive (which I am).Remember, in type language perceiving means “preferring to take in information.” It does not mean being “perceptive” in the sense of having quick and accurate perceptions about people and events.


An individual who is INFP tends to think before acting; resist sharing thoughts and feelings with others; be quiet and experience discomfort in expressing affection and emotion to others; work in a small group and need a longer “wait time” between questions and answers.
If the child is also intuitive (N) then he or she needs or likes opportunities to be original; tasks that require imagination; new tasks rather than having to master those that are already familiar and a variety of tasks.  A feeling (F) individual thrives in an environment where he or she receives feedback and praise about their performance; is not faced with conflict and confrontation and is not criticized or ridiculed, especially if the ridicule is also sarcastic. The perceiver (P) tends to act spontaneously; like freedom to move around (because too much desk work easily gives rise to boredom); work and play simultaneously and try and make the work fun and may turn in assignments late as a result of poor planning or time management.”

Tuesday, June 17, 2014

Godaan dan tekanan

Bila melihat yang terjadi, akibat akitivitas dan kegiatan yang kupilih untuk lakukan akhir akhir ini, diri ini merasa ada sesuatu yang berubah ada sesuatu yang tak lagi seperti dulu..

Dan sayangnya mengarah ke penurunan bagiku.. tapi semoga saja ini menjadi seperti ancang2 memelankan diri sebelum melompat tinggi..

Seperti seseorang yang mengalami kebimbangan yang mendalam, tujuan sudah tampak begitu jelas tetapi terlihat pula godaan-godaan kejam yang akan menyerang saat diri ini mencoba terbang menggapai cahaya diangkasa, saat berusaha untuk memercaya namun pada dusta, sekuat tenaga namun tak kuasa melawannya..

Sampai akhirnya walaupun senjata dengan segala kemampuan dan sihirnya ku pegang ditanganku tapi tak tega rasanya untuk ku keluarkan dari sarungnya, tetap tersarung dan kudekap erat didadaku, pergolakan antara tujuan dan penolakan..

Ingin rasanya ku marah pada diri ini namun ku hanya bisa tersadar bahwa itu tak akan memperbaiki apa-apa, ingin ku menangis meratapi diri yang lemah ini namun air mata tak dapat banyak menetes,  rasa takut dan rasa bersalah terus menerus menghantui memberatkan sendi sendi menjadi kaku dan terhenti,  maju tak kuasa mundur tak tega, ingin meloncat terbang kehilangan pijakan terdiam..

Seolah malaikat telah menunjukkan jalan yang lurus dihadapanku tetapi setan masih dengan kuat memegang pundakku dipinggir jurang, seolah meminta untuk tepat bersamanya dalam kegelapan yang nyata, dimana darisana kau bisa melihat keindahan cahaya menjadi luar biasa, titik terang yang indah tak tergapai..

Apalah arti menunggu, memupuk, menjaga dan menanam tanaman bertahun-tahun bila pada akhirnya berat untuk memanjat naik mengambil buahnya, tak tau harus bagaimana padahal tinggal menikmati hasilnya kini.. jika kutunggu dibawah ia hanya akan diambil oleh mereka yang bisa terbang dimalam hari saat ku tak jaga, saat ku coba terus menjaganya dan buah itu turun dengan sendirinya namun dalam keadaan yang sudah rusak atau busuk, akhirnya kuhanya bisa memandangnya sembari mulai memanjat, terus ku memanjat dan terjatuh, terpeleset dan terhempas jatuh,  begitu hingga aku belajar dan mencari tahu bagaimana cara memanjat, perlahan ku paham dan makin berada semakin diatas, sayangnya diatas kini sudah tak ada buah yang tersisa, tersadar, ku hanya bisa turun dan bersedih karenanya, merasa pulang dengan tangan hampa padahal kini ku bisa memanjat..

"Merasa tak mendapatkan apa2 dan tercerca karena yang didapat tak terindra mata"

Kini kuhanya dapat tetap setia menunggu dan tidak makin terjatuh, walaupun hanya bisa kupandangi dan kuraih secara nyata terindra, kutelah bertambah secara jiwa. Meski tak melangkah maju, tetap bertahan disana tanpa terjatuh dan bisa bangkit sudah luar biasa. Mungkin sayapku hilang berguguran bersamaan saat terjatuh, mengejar kesempurnaan dengan perlahan hanya kesusahan yang terasa..

Kini ku menunggu dipinggiran oase, menjaganya tetap bersih dan suci, mengabdi bukan untuk diri, memberi air pada mereka yang lewat dengan kehausan ditengah kegersangan pemikiran dan pemahaman..

Belum dapat kupergi dan tak pula kuingin mengotorinya dengan diriku, kujaga diriku darinya hingga ku sadari sayapku yang hilang kembali, untuk terbang menuju cahaya diujung dunia

Monday, May 26, 2014

This Very Day till Wake

pagi ini ku bermimpin tentang sesuatu yang sangat jelas tergambar dalam mimpi..
seperti biasanya semakin lama ku dari menulis semakin sulit untuk merecall mimpi tersebut..

ada 2 mimpi berturut-turut yang masih dapat kuingat.

Diwaktu yang bersamaan dengan kutertidur kembali, skitar pukul 6-7 pagi karena matahari masih malu-malu memperlihakan dirinya, aku bermimpi aku telah bangun dari tidurku
kondisinya saat itu sama denganku, menggunakan baju dan celana yang sama. saat itu aku berniat untuk berkeliling UI mencari udara segar dan sedikit berolahraga.
saat berjalan sepanjang jalan aku tidak sedang mood untuk berlari, jadi memang simply berjalan-jalan mengobservasi hal-hal yang menarik dan jika memungkinkan berfoto.

saat aku berjalan sudah hampir mencapai psikologi sebelum menyebrang didepan halte psikologi, aku melihat sebuah sepeda merah dengan merek sepertinya BMX ditinggal didekat pos satpam. lalu ada 3 orang perempuan berkerudung yang menggotong seorang wanita yang usianya kurang lebih sama dengan mereka karena pingsan ke halte psikologi agar mendapat tempat yang teduh. Saat melihat itu aku langsung berlari mendekati mereka dan berusaha untuk membantu, tetapi belum sampai diriku membantu perempuan yang pingsan itu sudah dibaringkan dihalte psiko dengan keadaan diagonal, rambutnya ikal, berbaju kemeja putih pendek dan menggunakan rok berwarna biru langit. Aku meminta mereka yang ada disana (tampaknya aku kenal dengan 3 perempuan yang menggotong mereka) untuk menjaganya dulu sembari aku mencari pertolongan ke satpam yang ada di gedung A. aku berlari menuju gedung A, tapi ternyata disana sedang tidak ada yang jaga, kemudian aku berkeliling psikologi sampai akirnya aku bertemu dengan 2 satpam, satu berbaju putih hitam dan satunya hitam-hitam, yang pertama aku rasa mengenal orangnya dan dia membawa HT, satunya farmiliar tapi aku tidak kenal, akupun memberi tahu mereka kalau ada yang pingsan kemudian kami berjalan cepat menuju lokasi tempat dibaringkannya perempuan tadi, sampai sana aku teringat kalau aku punya freshcare untuk membantunya sadar (saat itu aku teringat bahwa saat aku pingsan biasanya diberi bau-bauan alchohol yang 90%).  Sampai disana ternyata sudah ada yang memberikan minyak telon, dan perempuan yang pingsan tadi tampaknya sudah agak tersadar walaupun masih belum bisa banyak bergerak, ia memegang minyak telon yang diberikan padanya sendiri,.

Setelah itu aku pergi sebentar untuk mengambil peralatan medis di gedung A bersama satpam yang berbeda dari sebelumnya, dan saat kembali ke halte tampaknya perempuan tadi sudah cukup pulih untuk kembali beraktivitas, perempuan tersebut kemudian diberi ceramah oleh satpam tersebut.  selesai diceramahi satpam itu ganti sedikit memberi tahu kami tentang kalau ada kejadian yang butuh pertolongan medis, hubungi pak umar karena dia yang bawa mobil fakultas dan yang membawa peralatan medis, dan kata-kata tersebut diulang 2 kali setelah mengatakan bahwa aku sudah pernah diberi nomor handphonenya. Satpam itupun pergi. Kemudian aku membuka hp kecilku untuk mencari nomor kontak bapak umar, aku scroll naik turun berkali-kali tapi tak kunjung kutemukan.

Saat sedang asyik mencari kontak, perempuan yang baru tersadar itu memperkenalkan dirinya (tapi tak ingat apa yang ucapkan) dan kemudian ingin untuk segera balas budi dengan bersedia untuk dimintai apapun, lalu karena saat itu sudah pagi namun jam kuliah masih cukup jauh dan orang-orang yang ada disitu tampak capek, aku mengusulkannya untuk bernyanyi lagu gembira sebelum pergi. Yang lain menyetujui dan perempuan tadipun setuju. Kita semua perpindah dari halte psiko menuju jalan masuk psikologi yang menuju alfa dan kita naik ke atas bukit yang  ada haltenya  (walaupun dimimpinya sepertinya ada satu bukit lagi didepan situ, ia bernyanyi disatu dan yang menonton ada di dibukit yang tadi telah disebutkan). Perempuan tadi bernyanyi dengan sangat indah dan merdu membuat yang mendengarkannya terlena dalam lantunannya, makin lama makin banyak yang berdatangan untuk mendengarkan, mulai dari lagu ke tiga ada sound system dari fakultas yang berwarna putih untuk membantunya bernyanyi dan pada lagu ke lima ada sound systemnya fusi yang warna hitam itu membantu mengeraskan suara dengan lebih baik. disini aku baru mengenali 3 perempuan pertama yang mengangkut mereka (2 2011, 1 2012).

Dan tidak terasa ternyata nyanyian tadi dilakukan sampai sore karena hari menjadi gelap dan tergabung disana anak-anak AAJ sedang menyaji orang-orang yang mendengarkan lagu disana. Disana juga kulihat banyak anak FUSI yang berkumpul disitu untuk juga mengadakan acara setelah magrib, (ada gesang dan syaki). Usia magrib tiba-tiba perempuan tadi tidak lagi terlihat, atau paling tidak aku tidak tahu saat ia pamit. Keramaian disana langsung diambil alih atau dilanjutkan dengan acara sosialisasi MUSMA PSIKOLOGI YANG TAK KUNJUNG SELESAI ITU.  Aku karena tidak bisa mendengar apa-apa disitu pergi ke kamar mandi gedung H lantai dasar untuk buang air kecil, seperti biasa 2 dari 4? Tempat disana “out of service” saat mencuci tangan usai buang air kecil aku bertemu dengan Hendy yang menggunakan topi merah berbaju biru namun terlihat lebih berisi ketimbang yang sekarang ini. Ia mengatakan atau mengingatkan aku sesuatu tentang sesuatu (aku lupa dia ngomong apa). Setelah itu aku berpikir sambil mengingat-ngingat dan kembali ke bukit yang ramai orang tadi untuk kutemukan acara sudah selesai dan tinggal orang-orang yang membereskan sound system. Aku menyapa mereka untuk berpamitan.

Saat ingin kembali ke kosan entah mengapa aku terpanggil untuk menuju bukit depan alfamart, karena muncul gambar tas besar dengan mulut menganga diatasnya  tergeletak di samping pohon flying fox gandewa. Saat keatas aku benar melihat tas itu ada walaupun saat kusampai disana dalam keadaan bercover bag dan tampak terisi walaupun tak berat. Kemudian aku mengambil tas itu karena aku merasa itu milikku, karena disana tampaknya ada beberapa pekerja atau tukang yang sedang menebang dan membersihkan sesuatu disana yang klihatannya menggunakan tas milikku, maka aku menyapa mereka dan memberi tahu mereka bahwa aku ingin mengambil tas tersebut. tapi dari ketiga orang disana tampaknya tidak ada yang kenal benar denganku. Tukang yang kusapa  paling dekat mengatakn dengan lembut bahwa itu tidak bisa, ia kemudian mengambil tasku dan membawanya ke markas mereka seperti camp dan ada papan tulis hitam disana, dia menunjukkan bahwa disana ada angka 2 yang berarti ada 2 tas disana, saat kulihat benar adanya memang ada 2 tas yang sama persis, sama-sama consina baik tas maupun cover bagnya, namun yang satu berwarna hijau yang satu berwarna merah, kemudian kami saling berdialog. 2 tukang lainnya hanya duduk dikejauhan tampak tak peduli, tukang tersebut tampak seperti menghubungi seseorang dan akhirnya memperbolehkanku untuk membawa pulang tas tersebut setelah aku berbicara pada seseorang, tukang tersebut membawaku ketempat yang tak terlalu jauh dari situ, aku melihat 2 orang perempuan berambut hitam pendek, dengan baju berlengan pendek dan menggunakan celana pendek, perempuan yang berkuncir satu ini kemudian menanyakan apa yang terjadi kemudian aku menjelaskan, perempuan itu tampak bingung kemudian ia menanyakan ke perempuan yang tak berkuncir satunya tentang pendapatnya, aku mengenali bahwa perempuan yang dimintai pendapatnya ini adalah El Gandewa, ia menjawab bahwa “itu memang punya kak syanmil” sambil tersenyum sipu, kemudian perempuan yang satunya mengiyakan bahwa aku boleh membawanya pulang dan pergi bersama tukang tadi kembali ke camp.


Sebelum pergi El memanggil sebentar, dan membicarakan tentang mengapa tas tersebut ditinggal begitu saja diatas sana selama beberapa hari terakhir, dan kemudian menceritakan tentang sesuatu  yang tampaknya penting bagiku dan ia. Kemudian aku mengatakan sesuatu padanya dan kemudian pergi dari sana.

Thursday, May 22, 2014

My Interest profile

O*NET Interest Profiler: Score Report

Your interest results:

Realistic30
Investigative22
Artistic19
Social40
Enterprising26
Conventional28
R
I
A
S
E
C
Realistic
People with Realistic interests like work that includes practical, hands-on problems and answers. Often people with Realistic interests do not like careers that involve paperwork or working closely with others.
They like:
  • Working with plants and animals
  • Real-world materials like wood, tools, and machinery
  • Outside work
Social
People with Social interests like working with others to help them learn and grow. They like working with people more than working with objects, machines, or information.
They like:
  • Teaching
  • Giving advice
  • Helping and being of service to people
Conventional
People with Conventional interests like work that follows set procedures and routines. They prefer working with information and paying attention to details rather than working with ideas.
They like:
  • Working with clear rules
  • Following a strong leader

Friday, May 16, 2014

Dunia makin kecil saja

Hari aku berpergian menuju salah satu tempat di kelapa dua untuk briefing kegiatan. Karena belum pernah kesana dan merupakan tempat yang umum didatangi banyak orang maka saat bertanya orang tentang arah menuju lokasi tersebut menjadi sulit.

Abang2 angkot yang ada tidak dapat menurunkan diriku pada tempat yang diminta, membuatku harus sedikit berjalan mencari lokasi, disepanjang jalan banyak yang tidak tahu padahal adalah orang yang berjualan disekitar situ, hanya warga yang kliatan sudah lebih tua yang tahu dimana letaknya.

Dari sana seusai briefing sambil perjalanan balik ke depok, ku berpikir dan merasa ternyata depok ini makin kecil, ui makin kecil, juga dunia ini semakin kecil

Seperti dulu saat masih kecil saat hanya tau cara berjalan hanya bisa mengelilingi seisi kompleks apartemen, tapi begitu punya sepeda langsung bisa menjelajahi 1 kota.

Dulu yang kutek atau mipa terasa jauh jika berjalan sekarang jadi terasa dekat. Ya itulah hidup saat kita mengenal dan terbiasa maka akan lebih terasa nyaman bagi kita. Secara perlahan aku memperluas zona nyamanku ke titik puncak, yang artinya sudah saatnya aku untuk keluar atau jika tidak tidak adalagi perkembangan besar dalam diri karena kurang menantang lagi.

Tetapi saat terpikir untuk keluar dari zona nyaman yang telah dibangun selama 4 tahin terakhir membuatku takut dan cemas.

Aku ingin tetap berada dikenyamanan ini tetapi disisi lain kenyamanan membuatku berhenti belajar secara sungguh-sungguh dan terus menerus.

Your most important value

Value List

Achieving
Adventure
Career
Comfort
Contribution
Creativity
Family
Freedom
Friendship
Fun/Happiness
God
Health
Strength/Vitality
Helping Others
Honesty
Intimacy
Investment
Knowledge
Learning/Growing
Love
Loyalty
Making A Difference
Passion
Power
Security
Spirituality
Success
Trust

Thursday, May 15, 2014

Dunia kerja di pinggiran sana

Hari ini ku mendapatkan banyak pembelajaran dari sebuah rekrutmen

Hidup di pabrik memang terasa kejam dan sedikit kurang manusiawi tapi tetap saja banyak sekali yang terus mendaftar dan mendaftar. Walaupun gajinya bisa dibilang cukup besar tapi ketahanan fisik yang prima adalah wajib.

Berdiri selama 8 jam diruang yang penuh tekanan dan panjang bisa membuat orang yang terbiasa hidup mudah menjadi kewalahan.

Dilemma dan kisah di pagar terdepan penerimaan memicu ketertarikan untuk memahaminya.

Pendidikan disekolah nyatanya tidak dapat membentuk sikap dan perilaku yang membuatnya dapat rerbantu saat memasuki ranah dunia nyata atau dunia kerja. Ketakutan untuk sekedar mengklarifikasi atau bertanya saat belum paham atau mengerti sangat sering terjadi, daripada bertanya pada figur otoritas mereka lebih memilih bertanya pada teman disekitarnya yang padahal juga sama sama tidak mengerti yang kemudian berakhir dengan semua tidak mengerti dan menjadi norma bahwa ketidakngertian adalah biasa. Yang penting tidak dipanggil namanya atau dimarahi tetap lanjut saja walaupun sebenarnya sudah melanggar peraturan.

Baru dari dasar saja sudah banyak praktek feudal dengan memberikan hadiah bagi mereka yang punya otoritas, seolah itu sudah biasa dan memang jadi harusnya seperti itu. Tindakan penuh tipu muslihat dan intimidasipun kerap hadir disuasana seperti itu. Orang yang menyeleksipun dipaksa harus lebih pandai dan berani untuk dapat mengatasi hal tersebut.

Jika praktek seperti itu dengan ketidakstrukturannya, ketidaksistematiaannya dan kespontanannya saja bisa hadir dengàn prevalensi tinggi di lingkungan ini betapa mengerikannya orang2 seperti itu jika berada di posisi yang lebih tinggi.

Berdoa yang terbaik untuk negeriku yang ter cinta ini.

Wednesday, May 14, 2014

Permaianan bukan rahasia AAJ

Kemarin usiaku latihan tenis meja, ku coba sempatkan dirikununtuk mampir menengok acara yang diadakan oleh AAJ seblum akhirnya untuk melanjutkan kegiatan jogging rutin..

Acara kali ini lebih terkesan sebagai acara internal klo menurutku,, karena memang hanya ada aku yang bukan sebagai pengurus inti plus anak kegiatan. Selain itu pada permainan kali ini adalah tentang mengenali orang lain.

Hmmm.. benar benar menantang pikiran karena hampir semua adalah anak anak baru yang tidak kukenal dengan baik, dan menjadi menarik karena malah menggunakan analisis psikologi freudian atau psikoanalisis..

Dan hasilnya 90% tepat sasaran.. jadi ngeri sendiri sampai bisa ngorek-ngorek informasi sedalam itu berbekal 3 kalimat pendek.

Awalnya aku datang hanya untuk melihat sebentar dan lalu akan pergi, tapi permainannya sangat sangat untuk dilewatkan begitu saja, karena permainan semacam itu sangat menyenangkan bagiku.

Mendadak dipaksa untuk ikut berpartisipasi dalam permainan tersebut dan diminta menuliskan 3 kalimat pendek yang menjelaskan diri dan tidak boleh terlalu ngawang juga terlalu obvious.

Berpikit sejenak akhirnya aku putuskan untuk memilih 3 kalimat itu.

1. Datang dan pergi seperti hantu
2. Menggapai mimpi dipuncak tertinggi
3. Berkantung seperti kangguru

Awalnya seperti biasa, karena sedikit yang mengenalkunjadi kebanyakan hal yang tidak cocok benar dengan yang lain selalu terlempar akhirnya didiriku. Saling bertanya, karena saat itu sedikit yang mendeskripsikan dirinya dengan metafora.

Sampai pada satu titik, abram, anak psdm yang paling tau ini (semua tebakannya tepat dan informasi darinya sungguh bermanfaat mengungkapkan jati diri orang lain) teringat bahwa aku selalu menggunakan kantong kemanapun aku pergi. Oke. Keren.

Dan beberapa saat kemudian ia menebak makna nomor dua, suka naik gunung, anak gandewa. Wow. Tepat sekali lagi. Mantap.

Namun yang pertama tidak ada yang mengerti dengan tepat. Kebanyakan berpikir disisi mistis, walaupun tidak sepenuhnya salah tapi bukan itu. Poin bertama aku berusaha untuk menjelaskan keberadaanku di AAJ dimana aku kadang datang lalu pergi begitu saja karena aku memang bukan pengurus dan hanya datang saat diundang (tapi undangannya sering) seperti hantu menjelaskan bahwa aku masih akan bergentayangan dan mengawasi mereka dari sekitar sembari sesekali menampakkan diri sampai keinginanku sebelum mati (sebelum berhenti aktif mengurus) dapat tercapai di AAJ. GANBATTE MINNAAAA !!!!

Setelah dirasakan perjalanannya memang lompatan generasi diperlukan di AAJ, ke negatifan dan priming yang berbeda ketimbang perkumpulan jejepangan pada umumnya diperkuliahan memang harus di negasikan erlebih dahulu. Culture jelek harus diputus.

Tuesday, May 13, 2014

Loyalitas

Ternyata benar saja..

Motivasi yang membuatku dapat terus berkarya dan mengejar mimpi adalah saat apa yang aku perbuat ini adalah untuk diriku dan kelompok yang mempresepsikanku bagian didalamnya..

Need to belong..

Kebutuhan yang sangat tidak terpenuhi satu tahun ini karena sakit berkepanjangan yang memutuskan kontakku dengan dunia..

Seperti kata banyak cerita di anime dan manga yang berasal dari pepatah jepang,  "seseorang akan menjadi sangat kuat jika ia melindungi sesuatu yang penting"  dan tampaknya hal tersebut sangat tertanam dalam diri..

As I am nothing if not protecting something or someone

Jika memang perasaan memiliki dan dimiliki ini sudah tak terbalas karena waktu telah berganti begitu pula orang-orang didalamnya, 2 organisasi yang aku sangat loyal didalamnya, kini jadi berbeda melihat diri ini dari kacamata mereka..

Times make our perceptive about others changes

Aku yang tak terbiasa dan belum mau berubah harus terpaksa berubah cara pandangnya, cara pandang pada 2 organisasi yang sangat aku sayangi dan aku banggakan ini..

Dari yang sangat insider loyal menjadi outsider shadow support.

Kalau memang harus berakhir seperti ini ya sudahlah, mungkin ini waktunya untuk bertransisi memulai lembaran baru, merintis sesuatu yang masih bersih dari presepsi.. yang melihat diri ini sebagai diriku seorang..

Presepsi dan ekspektasi memang menyakitkan jika tak terkelola.

Tuesday, May 6, 2014

Idealis



Results

Your answers suggest you are an Idealist

The four aspects that make up this personality type are:
Spontaneous, Ideas, Hearts and Introvert

Summary of Idealists

  • Make sense of the world using inner values
  • Focus on personal growth and the growth of others
  • Think of themselves as bright, forgiving and curious
  • May sometimes appear stubborn

More about Idealists

Idealists put time and energy into developing personal values that they use as a guide through life. They may seek fulfilment by helping others improve themselves and often want to make the world a better place. Idealists only share their inner values with people they respect.

Idealists are the most likely group to say they are vegetarian, according to a UK survey.
Idealists enjoy discussions about a wide range of topics, particularly those that deal with the future. They are typically easy-going and flexible, but if their values are challenged they may refuse to compromise.
In situations where they can’t use their talents or are unappreciated, Idealists may have trouble expressing themselves and withdraw. Under extreme stress, Idealists may become very critical of others, or lose confidence in their own ability to cope.
Recognition for their work is important to Idealists; however, they are also good at spotting false praise.

Idealist Careers

Idealists are often drawn to jobs where they can help people reach their potential. They are also attracted to careers that allow artistic creativity.

Synthesis

Synthesists are integrators. 
They delight in finding relationships in things which, to others, have no apparent connection. 
In a group discussion, they are likely to champion an opposite point of view, and are therefore valuable in avoiding "group think." 
Synthesists tend to be highly creative people, very interested in change and highly speculative. 
To others, they may appear argumentative at times, and their pattern of thought may appear somewhat disjointed.

Sunday, May 4, 2014

To the ice yet active mountain

Dimulai dari sebuah perjalanan ke suatu gunung tropis yang tertinggi di daerah reginal tersebut..

Hari itu aku yang me lead perjalanan itu sampai pada suatu titik dimana rombonganku berhenti,  saat itu aku terhenti karena kelelahan dan merasa kedinginan. Yang lain hanya setuju untuk berhenti sejenak karena beban terberat ada didiriku, kerilku..

Dalam rombonganku terdiri dari ayahku, ibuku, kedua adikku dan 3 orang lain aku merasa kenal namun tak ingat siapakah dia, kemungkinan besar teman2ku dikampus..

Mereka tampak berdiskusi yang terbagi menjadi 2 kelompok forum yang berbeda..

Aku merasa masuk fase sadar dan tidak sadar sampai kehilangan beberapa waktu yang terlewat begitu saja.. dan saat tersadar aku merasa sangat kuat sehat dan bersemangat..

Dari situ kami sepakat untuk melanjutkan perjalanan dan berangkat menuju suatu tempat yang memiliki danau yang cukup luas dan disekitar nya terhampar bukit2 untuk menyaksikan matahari terbit dipagi hari.. saat itu pemandangan sangat bagus, matahari bersinar kuning oranye emas kemudian kuning.. sisi langit lainnya berwarna jingga dan ungu.. namun sayang saat itu tak dapat melihat dengan jelas dan dapat memfoto karena terhalang oleh sebuah rumah dan kapal yang berada didekat sana.. theyre moving..

Karena merasa apa yang lain cari sudah cukup didapatkan, keluargaku memilih pulang, sedangkan aku dan teman2ku melanjutkan perjalanan menuju puncak tertinggi yang banyak orang ingin kesana namun banyak yang tak berhasil..

Thursday, April 24, 2014

Pendakian menuju langit tertinggi jawa barat (pra-perjalanan)

Pendakian kali ini sebenarnya diluar rencana, dimana aku berencana untuk mengurangi jumlah naik gunung untuk berfokus pada skripsi
Tapi apa daya keinginan untuk mendekatkan diri dengan alam, mencari tantangan dan sekedar lari dari jenuhnya perkuliahan
Tawarannya yang menarik dan tim awal yang cukup sulit, membuatku cukup sulit untuk tidak mau, akhirnya dibuat lah rencana perjalanan atau manajemen perjalanan
Setelah berdiskusi dengan tim awal, akhirnya diputuskan kalau kita berangkat menuju ceremai via linggarjati, jalur yang memiliki banyak cerita tentang sulit dan angkernya
Sejak diputuskan kemana kita akan berangkat, ajak mengajakpun dilakukan, persiapan dari fisik mental dan peralatan. Persiapannya cukup panjang
Dan tiktok waktu cepat berlalu sampai tinggal beberapa hari menjelang keberangkatan, h-2 waktunya untuk last latihan fisik yang paling demanding buat badan via jogging lingkar luar plus plus sekaligus melihat anggota tim lainnya.  Walaupun akhirnya hanya 1/3 dari seluruh anggota tim setelah itu dilanjutkan kan dengan packing bersama untuk bagi2 berat barang kelompok.
Pada pendakian ini tidak seperti  biasanya yang lebih banyak ceweknya, kini lebih banyak cowoknya, awalnya ku ingin agar yang cewek bawa barang lebih ringan tapi ternyata pada insist tetep harus adil karena pada ngerasa kuat, yang cowok2 lain malah dengan senang hati setuju.. pada packingini lagi2 dikecewakan karena masih saja ada yang tidak hadir..
Usai packing kami lanjutkan dengan briefing peran dan secuplik perjalanan hingga cukup malam. Adapula sharing seputar keadaan diri terutama terkait medis, setelah itu berdoa dan kami pulang ke tempat masing2 untuk beristirahat..
H-1 sebelum keberangkatan.. (cont)

Thursday, April 10, 2014

Kepulangan dan kepergianku

Hari ini aku kembali merantau ke jakarta, setelah mengobati kekangenanku di rumah, kali ini kepulamganku kerumah ingin mengingat kembali apa tujuanku merantau dan alasan yang dapat menguatkanku untuk terus berjuang didaerah yang jauh.

Setelah ini ada beberapa yang harus segra dibenarkan dan dilutuskan dari diri ini.. masalah yang memang sejak awal sudah diperkirakan akan terjadi,  masalah yang memang sejak awal sudh diwanti wanti harus diubah sesegera mungkin.

Seolah kini prioritas utama jadi agak terbengkalai karena terlalu fokus pada prioritas 2 dan 3 walaupun memang alhamdulillah cukup baik. Tidak canggih dalam menyusun prioritas memang sering menjadi masalah atas kesempatan yang selama ini banyak terabaikan.

Saat apa yang dikatakan orang pada tiap konteks lingkungan berbeda antar 1 dengan lainnya juga terjadi perbedaan antara hati, pikiran dan rasa dalam kecamuk diri sendiri.

Belajar psikologi sendiri malah menambah kecamuk itu makin hebat,  bagaimana tidak, dengan mengetahui banyaknya tipe keidealan dan cara untuk menggapainya juga ditambah dengan manisnya sebuah kata dapat langsung dipresepsikan terhadap ketulusannya, membuat diri ini secara sadar dapat menilai seseorang dari fisiknya, suaranya dan tingkah laku nya bahkan jika beruntung bisa dapat lebih mendalam dari info yang ia sampaikan disekitar nya.

Kesadaranku ini coba terus membaca keinginan dan tujuan dari ketidaksadaranku, tapi pada akhirnya masihterus menerus harus menghancurkan batas batas yang m3mang selalu muncul menghalangi kemajuan diri.

Yang perlu di kejar kini adalah bagaimana menyatukan 3 entitas dalam diri untuk dapat bekerja bersama mencapai yang terbaik.

Kelaparan dan kesakitan

Hari ini lembali dilatih bagaimana untuk tetap bisa sabar dalam bebrbagai  kondisi..

Bagaimana tidak, hari ini sebelum menemui dokter gigi untuk dibenarkan kawatnya, aku harus menunggu selama 3 jam diruang dokter gigi menikmati rasa sakit dari kawat yang sedikit dimodifikasi itu.. rasa haus kantuk ditambah kebosananpun mendera cukup tajam sedangkan gadget berada jauh dari genggaman tangan.

Setelah itu gigi di modifikasi untuk dapat berfunsi maksimal.. yang namanya kawat giginya digerakkin apalagi buat makan tentu sakitnya berasa. Teng. Seng. Cekkkkiitttt.

Oke tahap ini cukup bisa menahan rasa sakit ini.. sepanjang perjalanan ke bis luka yang terbuka akibat pecahnya gigi mulai terasa nikmatnya ngilu yang sampai saraf, menyebabkan rasa pening dikepala dan mata.. urat mencuat dari pinggir kepala menunjukkan seolah kepala sedang berpikir keras.. pikirku saat itu, ya bentar lagi pulang istirahat sholat lalu makan dilanjutkan dengan sedikit bersenang-senang di indahnya langit sore hari.

Sayangnya keinginan indah itu tak dapat dengam mudah terkabulkan, karena ada rombongan RI 1 yang lewat maguwo entah dengan pesawat atau kereta membuat kereta dengan harga ekonomi paling murah yang kunaiki saat itu harus terus menerus mengalah dari kereta yang tingkatannya lebih tinggi..

Satu kereta berlalu...

Dua kereta berlalu....

Sampai lima kereta berlalu.. 2 jam waktu menunggu.. gerbong semakin sesak dan panas ditambah rasa lapar yang mendera karena memang dari pagi belum makan karena gigi yang sakìt telah menghilangkan selera makanku, makin ku rasakan laparku semakin pula kurasakan sakitku, waktu makin berjalan dengan lambatnya..

Suasana di gerbong ku juga semakin memanas karena sudah terlalu lama, karena bila memang batal bisa segera pindah kereta yang lebih mahal atau pindah bis, saat itu sebentar lagi ada kereta bisnis yang akan berjalan.  Beberapa orang sudah mulai menanyakan dan "menginterogasi" para petugas perihal keberangkatan kereta.. tetapi yang membuatku heran adalah yang lainnya tenang tenang aja tanpa masalah, setia menunggu. Sebuah pemandangan yang langka di jakarta. Telat dikit langsung suasana panas dan resiko kerusuhan tinggi.

Dari kejadian itu aku merasa beruntung dibesarkan di lingkungan orang2 yang sangat penyabar dan tak mudah tersulut emosinya ataukah sekedar memang tingkat distress di solo jogja ini tidak semengerikan di ibukota. Entah sistem yang membuat orang tidak banyak protes dan cenderung nrimo?

Yang jelas hingga skrg ku masih harus terus menunggu....