Thursday, May 15, 2014

Dunia kerja di pinggiran sana

Hari ini ku mendapatkan banyak pembelajaran dari sebuah rekrutmen

Hidup di pabrik memang terasa kejam dan sedikit kurang manusiawi tapi tetap saja banyak sekali yang terus mendaftar dan mendaftar. Walaupun gajinya bisa dibilang cukup besar tapi ketahanan fisik yang prima adalah wajib.

Berdiri selama 8 jam diruang yang penuh tekanan dan panjang bisa membuat orang yang terbiasa hidup mudah menjadi kewalahan.

Dilemma dan kisah di pagar terdepan penerimaan memicu ketertarikan untuk memahaminya.

Pendidikan disekolah nyatanya tidak dapat membentuk sikap dan perilaku yang membuatnya dapat rerbantu saat memasuki ranah dunia nyata atau dunia kerja. Ketakutan untuk sekedar mengklarifikasi atau bertanya saat belum paham atau mengerti sangat sering terjadi, daripada bertanya pada figur otoritas mereka lebih memilih bertanya pada teman disekitarnya yang padahal juga sama sama tidak mengerti yang kemudian berakhir dengan semua tidak mengerti dan menjadi norma bahwa ketidakngertian adalah biasa. Yang penting tidak dipanggil namanya atau dimarahi tetap lanjut saja walaupun sebenarnya sudah melanggar peraturan.

Baru dari dasar saja sudah banyak praktek feudal dengan memberikan hadiah bagi mereka yang punya otoritas, seolah itu sudah biasa dan memang jadi harusnya seperti itu. Tindakan penuh tipu muslihat dan intimidasipun kerap hadir disuasana seperti itu. Orang yang menyeleksipun dipaksa harus lebih pandai dan berani untuk dapat mengatasi hal tersebut.

Jika praktek seperti itu dengan ketidakstrukturannya, ketidaksistematiaannya dan kespontanannya saja bisa hadir dengàn prevalensi tinggi di lingkungan ini betapa mengerikannya orang2 seperti itu jika berada di posisi yang lebih tinggi.

Berdoa yang terbaik untuk negeriku yang ter cinta ini.

No comments:

Post a Comment