Sebuah Catatan Kecil Kehidupan yang Coba saya rangkum dalam lembaran-lembaran Pengalaman.. Kumpulan Karya yang coba saya rangkai untuk masa depan..
Thursday, April 24, 2014
Pendakian menuju langit tertinggi jawa barat (pra-perjalanan)
Thursday, April 10, 2014
Kepulangan dan kepergianku
Hari ini aku kembali merantau ke jakarta, setelah mengobati kekangenanku di rumah, kali ini kepulamganku kerumah ingin mengingat kembali apa tujuanku merantau dan alasan yang dapat menguatkanku untuk terus berjuang didaerah yang jauh.
Setelah ini ada beberapa yang harus segra dibenarkan dan dilutuskan dari diri ini.. masalah yang memang sejak awal sudah diperkirakan akan terjadi, masalah yang memang sejak awal sudh diwanti wanti harus diubah sesegera mungkin.
Seolah kini prioritas utama jadi agak terbengkalai karena terlalu fokus pada prioritas 2 dan 3 walaupun memang alhamdulillah cukup baik. Tidak canggih dalam menyusun prioritas memang sering menjadi masalah atas kesempatan yang selama ini banyak terabaikan.
Saat apa yang dikatakan orang pada tiap konteks lingkungan berbeda antar 1 dengan lainnya juga terjadi perbedaan antara hati, pikiran dan rasa dalam kecamuk diri sendiri.
Belajar psikologi sendiri malah menambah kecamuk itu makin hebat, bagaimana tidak, dengan mengetahui banyaknya tipe keidealan dan cara untuk menggapainya juga ditambah dengan manisnya sebuah kata dapat langsung dipresepsikan terhadap ketulusannya, membuat diri ini secara sadar dapat menilai seseorang dari fisiknya, suaranya dan tingkah laku nya bahkan jika beruntung bisa dapat lebih mendalam dari info yang ia sampaikan disekitar nya.
Kesadaranku ini coba terus membaca keinginan dan tujuan dari ketidaksadaranku, tapi pada akhirnya masihterus menerus harus menghancurkan batas batas yang m3mang selalu muncul menghalangi kemajuan diri.
Yang perlu di kejar kini adalah bagaimana menyatukan 3 entitas dalam diri untuk dapat bekerja bersama mencapai yang terbaik.
Kelaparan dan kesakitan
Hari ini lembali dilatih bagaimana untuk tetap bisa sabar dalam bebrbagai kondisi..
Bagaimana tidak, hari ini sebelum menemui dokter gigi untuk dibenarkan kawatnya, aku harus menunggu selama 3 jam diruang dokter gigi menikmati rasa sakit dari kawat yang sedikit dimodifikasi itu.. rasa haus kantuk ditambah kebosananpun mendera cukup tajam sedangkan gadget berada jauh dari genggaman tangan.
Setelah itu gigi di modifikasi untuk dapat berfunsi maksimal.. yang namanya kawat giginya digerakkin apalagi buat makan tentu sakitnya berasa. Teng. Seng. Cekkkkiitttt.
Oke tahap ini cukup bisa menahan rasa sakit ini.. sepanjang perjalanan ke bis luka yang terbuka akibat pecahnya gigi mulai terasa nikmatnya ngilu yang sampai saraf, menyebabkan rasa pening dikepala dan mata.. urat mencuat dari pinggir kepala menunjukkan seolah kepala sedang berpikir keras.. pikirku saat itu, ya bentar lagi pulang istirahat sholat lalu makan dilanjutkan dengan sedikit bersenang-senang di indahnya langit sore hari.
Sayangnya keinginan indah itu tak dapat dengam mudah terkabulkan, karena ada rombongan RI 1 yang lewat maguwo entah dengan pesawat atau kereta membuat kereta dengan harga ekonomi paling murah yang kunaiki saat itu harus terus menerus mengalah dari kereta yang tingkatannya lebih tinggi..
Satu kereta berlalu...
Dua kereta berlalu....
Sampai lima kereta berlalu.. 2 jam waktu menunggu.. gerbong semakin sesak dan panas ditambah rasa lapar yang mendera karena memang dari pagi belum makan karena gigi yang sakìt telah menghilangkan selera makanku, makin ku rasakan laparku semakin pula kurasakan sakitku, waktu makin berjalan dengan lambatnya..
Suasana di gerbong ku juga semakin memanas karena sudah terlalu lama, karena bila memang batal bisa segera pindah kereta yang lebih mahal atau pindah bis, saat itu sebentar lagi ada kereta bisnis yang akan berjalan. Beberapa orang sudah mulai menanyakan dan "menginterogasi" para petugas perihal keberangkatan kereta.. tetapi yang membuatku heran adalah yang lainnya tenang tenang aja tanpa masalah, setia menunggu. Sebuah pemandangan yang langka di jakarta. Telat dikit langsung suasana panas dan resiko kerusuhan tinggi.
Dari kejadian itu aku merasa beruntung dibesarkan di lingkungan orang2 yang sangat penyabar dan tak mudah tersulut emosinya ataukah sekedar memang tingkat distress di solo jogja ini tidak semengerikan di ibukota. Entah sistem yang membuat orang tidak banyak protes dan cenderung nrimo?
Yang jelas hingga skrg ku masih harus terus menunggu....
Monday, April 7, 2014
Sebuah berjuangan melawan usia
Setelah lama ku tinggal dijakarta.. aku kembali lagi ke solo..
Kepulangan kali ini terasa berbeda dari biasanya, karena memang saat itu aku sedang dalam perenungan panjang untuk mencari sebuah arti dari kekinian dan masa depan..
Sesampainya di stasiun balapan seperti biasa, penumoang yang baru turun disambut oleh banyak orang menawarkan moda transportasi mereka, ada becak, ada ojek dan ada pula taksi. Tak seperti biasanya, karena efek dari mencoba mencari insight dari sekitar, aku mendapati beberapa hal, yaitu:
1. Mereka yang menawarkan becak lebih bersemangat dan menunggu paling depan dan sigap membawakan barang bawaan penumpang, sedangkan yang menawarkan ojek ada dilini belakangnya diikuti orang yang menawarkan kendaraan mobil.
2. Usia yang lebih tua dengan keriputnya ditambah otot-otot ditubuh yang kekar milik para tukang becak, bahkan beberapa sudah berambut putih. Dari mereka dapat kurasakan semangat juang yang tinggi dan vitalitas mencari nafkah. Sedangkan yang lain selain tukang becak terlihat lebih santai dan terkesan agak sombong bagiku.
3. Orang yang menawarkan becak biasa lebih humble dan lebih baik secara rata2 dibandingkan ojek ataupun kendaraan mobil.
4. Dan dikarenakan pengemudi becak ini sudah punya pengalaman yang panjang dan klo naek becak lebih nyaman dan bisa menikmayi pemandangan juga dapat cerita dari zaman ke zaman dan khazanah kehidupan yang cukup komprehensif
Kala itu karena sudah over budget untuk pulkam jadi saya memilih naik bis dan dilanjutkan dengan berjalan kaki, saat menunggu bis datangpun aku melihat seorang nenek yang menjual kripik belut, dia menawarkan pada tiap2 orang untuk membeli dagangannya, walaupun jalannya sudah agak sulit tapi terlihat dari raut wajahnya dan suaranya yang masih sangat bersemangat dan tutur katanya baik dengan bahasanya.
Saat itu aku tertegun karena dijakarta atau didepok banyak yang malah , memilih untuk mengemis bahkan ada yang menjadi profesional dengan itu.
Setelah itu akupun berjalan melihat sepanjang jalan solo, banyak yang berubah dibandingkan saat masih sekolah dulu, dan entah mengapa jadi makin terasa maju dan ekonominya meningkat. Tapi saat setelah itu masuk ke dalam pemukiman atau jalan2 kecil pemandangan tampak berbeda, dibalik gedung gedung megah nan mewah terdapat rumah2 yang biasa dan ada beberapa bagiannya belum ditembok, tak jauh dari situ aki melihat seorang nenek tua skitar 70an membawa karung berukuran sebesar tubuhnya diatas punggungnnya yang bungkuk, jalannya pincang tapi dengan langkahnya ia tidak memilih untuk diam dan mencoba mandiri.
Setelah itupun aku berpikir, aku yang masih cukup muda, punya tenaga dan sumber daya tapi malah terlena oleh waktu, tidak banyak berjuang dan banyak berpangku tangan menikmati yang terberi.
.B. Lets create something worth of our youth time!! ./b.
Pengingatan senja utama solo
Sunday, April 6, 2014
Tulisan dari stasiun kereta api
Hari ini adalah hari minggu tanggal 6 januari 2014..
Rencananya aku ingin pulang ke kampung halamanku di solo dari beberapa hari yang lalu..
Tujuan kepulanganku sebenarnya lebih karena tetiba mendapatkan firasat untuk sesegera mungkin pulang, dan diperkuat karena aku ingin untuk mencoblos caleg di kampung halaman..
Tetapi apa daya diri ini kurang mampu untuk melaksanakan sesuai dengan rencana karena satu dan lain hal nya..
Traumaku beberapa bulan kemaren untuk perihal menulis semakin menjadi.. iya, menulis tugas..rasanya jadi begitu sulit, lebih sulit dari biasanya.. padahal itu tugas dengan bobot yang super tinggi..mungkin karena rasa kesepian dan ketidakaktifan seperti biasanya sehingga saraf dan tubuh ini sangat ingin melakukan sesuatu dan terus bergerak ataupun membaca, tang berakhir malah mendistrakku dengan sangat parah..
Mungkin biasanya distrak lain itu ada hasilnya tapi ini malah distraknya pure avoid kerjaan..
Walaupun akhirnya tugas tersebut dapat selesai beberapa jam yang lalu, itupun karena desakan terus menerus untuk dapat menyelesaikan tugas tersebut, thanks to Amal.
Oke, back to topik ke kenapa sampai jadi harus menunggu selama ini..
Malam kmren setelah sedikit mendapatkan kesenangan berjogging dan menikmati rintik hujan dimalam hari, teringat untuk seera membeli tiket kereta api untuk pulang ke solo, merasa perlu segera carbo-loading setelah berolahraga berat aku memutuskan untuk segera makan, nah.. ditengaj perjalanan mencari tempat makan inilah aku melewati tempat yang jualan tiket kereta tersebut, dan kelanjutannya aku langsung membeli tiket kereta tersebut saat itu juga tanpa pikir panjang, tanya2, ataupun mencari informasi terlebih dahulu dan parahnya belum makan!!!
Diawal tidak ada yang salah sampai keesokan harinya tersadar kalau ternyata salah beli tiket kereta.. menyebabkan harganya jadi 2x lipat dari harga yang seharusnya dibayar.
Pagi harinya akupun berangkat ke stasiun 2 jam sebelum keberangkatan.. ingin sampai lebih cepat akupun memilih untuk mengambil jalan pintas yang dapat menghemat waktu 30menit, dengan cara transit kereta untuk dapat jarak yang lebih pendek..tapi sayangnya nasib berkata lain.. karena transit 2x dan harus ganti kereta yang mana kereta dikedua tempat transit tersebut ternyata terlambat 20 menitan per kereta.. selama menunggu sambil terus berdoa dan berharap semoga dapat naik dan tidak ketinggalan kereta.. saat sampai kereta ternyata masih dalam pengecekan dan belum diberangkatkan.. dari krl langsung berlari dan mengantri untuk Mencetak tiket online.. agak sedikit lama.. dan langsung berlari menuju kereta..dari seberang kereta sudah dipersilahkan jalan dan aku hanya dapat menatap kereta yang tiketnya mahal itu pergi meninggalkan diriku.. berlari sekalipun jaraknya cukup jauh karena harus melewati lorong yang cukup panjang.
Kebingungan dan tak mengerti harus berbuat apa.. aku hanya berdiri didepan peron dengan lemas, menundukkan kepala dan harus menghela nafas sangat panjang.. karena belum sarapan.. rasa pusing lemas dan mualpun muncul..
Tuker tiket tidak bisa.. beli tiket lagi buat besok kelamaan.. akhirnya aku putudkan untuk beli tiket kereta selanjutnya.. dan ummm... oke.. kereta selanjutnya tinggal yang eksekutif dan berangkat jam 9.. tanpa pikir panjang langsung beli aja.. padahal klo punya informasi lengkap atau rasio dan logika sedang jalan dengan baik bisa milih naik senja utama jogja yang lebih murah dan lebih cepat sampai dengan setengah harga.
Tapi apa daya baru aku sadari setelah aku makan dan sholat. Tapi tak apa.. aku jadi menemukan tempat VIP yang seruangan 3x kosan buat dipakai sendiri, ada colokan, tv, kipas angin dan tentu saja makanan serta ditambah suasana yang nyaman untuk merenungi hari ini.
5 hour more waiting..