Hari ini lembali dilatih bagaimana untuk tetap bisa sabar dalam bebrbagai kondisi..
Bagaimana tidak, hari ini sebelum menemui dokter gigi untuk dibenarkan kawatnya, aku harus menunggu selama 3 jam diruang dokter gigi menikmati rasa sakit dari kawat yang sedikit dimodifikasi itu.. rasa haus kantuk ditambah kebosananpun mendera cukup tajam sedangkan gadget berada jauh dari genggaman tangan.
Setelah itu gigi di modifikasi untuk dapat berfunsi maksimal.. yang namanya kawat giginya digerakkin apalagi buat makan tentu sakitnya berasa. Teng. Seng. Cekkkkiitttt.
Oke tahap ini cukup bisa menahan rasa sakit ini.. sepanjang perjalanan ke bis luka yang terbuka akibat pecahnya gigi mulai terasa nikmatnya ngilu yang sampai saraf, menyebabkan rasa pening dikepala dan mata.. urat mencuat dari pinggir kepala menunjukkan seolah kepala sedang berpikir keras.. pikirku saat itu, ya bentar lagi pulang istirahat sholat lalu makan dilanjutkan dengan sedikit bersenang-senang di indahnya langit sore hari.
Sayangnya keinginan indah itu tak dapat dengam mudah terkabulkan, karena ada rombongan RI 1 yang lewat maguwo entah dengan pesawat atau kereta membuat kereta dengan harga ekonomi paling murah yang kunaiki saat itu harus terus menerus mengalah dari kereta yang tingkatannya lebih tinggi..
Satu kereta berlalu...
Dua kereta berlalu....
Sampai lima kereta berlalu.. 2 jam waktu menunggu.. gerbong semakin sesak dan panas ditambah rasa lapar yang mendera karena memang dari pagi belum makan karena gigi yang sakìt telah menghilangkan selera makanku, makin ku rasakan laparku semakin pula kurasakan sakitku, waktu makin berjalan dengan lambatnya..
Suasana di gerbong ku juga semakin memanas karena sudah terlalu lama, karena bila memang batal bisa segera pindah kereta yang lebih mahal atau pindah bis, saat itu sebentar lagi ada kereta bisnis yang akan berjalan. Beberapa orang sudah mulai menanyakan dan "menginterogasi" para petugas perihal keberangkatan kereta.. tetapi yang membuatku heran adalah yang lainnya tenang tenang aja tanpa masalah, setia menunggu. Sebuah pemandangan yang langka di jakarta. Telat dikit langsung suasana panas dan resiko kerusuhan tinggi.
Dari kejadian itu aku merasa beruntung dibesarkan di lingkungan orang2 yang sangat penyabar dan tak mudah tersulut emosinya ataukah sekedar memang tingkat distress di solo jogja ini tidak semengerikan di ibukota. Entah sistem yang membuat orang tidak banyak protes dan cenderung nrimo?
Yang jelas hingga skrg ku masih harus terus menunggu....
No comments:
Post a Comment