Bila melihat yang terjadi, akibat akitivitas dan kegiatan yang kupilih untuk lakukan akhir akhir ini, diri ini merasa ada sesuatu yang berubah ada sesuatu yang tak lagi seperti dulu..
Dan sayangnya mengarah ke penurunan bagiku.. tapi semoga saja ini menjadi seperti ancang2 memelankan diri sebelum melompat tinggi..
Seperti seseorang yang mengalami kebimbangan yang mendalam, tujuan sudah tampak begitu jelas tetapi terlihat pula godaan-godaan kejam yang akan menyerang saat diri ini mencoba terbang menggapai cahaya diangkasa, saat berusaha untuk memercaya namun pada dusta, sekuat tenaga namun tak kuasa melawannya..
Sampai akhirnya walaupun senjata dengan segala kemampuan dan sihirnya ku pegang ditanganku tapi tak tega rasanya untuk ku keluarkan dari sarungnya, tetap tersarung dan kudekap erat didadaku, pergolakan antara tujuan dan penolakan..
Ingin rasanya ku marah pada diri ini namun ku hanya bisa tersadar bahwa itu tak akan memperbaiki apa-apa, ingin ku menangis meratapi diri yang lemah ini namun air mata tak dapat banyak menetes, rasa takut dan rasa bersalah terus menerus menghantui memberatkan sendi sendi menjadi kaku dan terhenti, maju tak kuasa mundur tak tega, ingin meloncat terbang kehilangan pijakan terdiam..
Seolah malaikat telah menunjukkan jalan yang lurus dihadapanku tetapi setan masih dengan kuat memegang pundakku dipinggir jurang, seolah meminta untuk tepat bersamanya dalam kegelapan yang nyata, dimana darisana kau bisa melihat keindahan cahaya menjadi luar biasa, titik terang yang indah tak tergapai..
Apalah arti menunggu, memupuk, menjaga dan menanam tanaman bertahun-tahun bila pada akhirnya berat untuk memanjat naik mengambil buahnya, tak tau harus bagaimana padahal tinggal menikmati hasilnya kini.. jika kutunggu dibawah ia hanya akan diambil oleh mereka yang bisa terbang dimalam hari saat ku tak jaga, saat ku coba terus menjaganya dan buah itu turun dengan sendirinya namun dalam keadaan yang sudah rusak atau busuk, akhirnya kuhanya bisa memandangnya sembari mulai memanjat, terus ku memanjat dan terjatuh, terpeleset dan terhempas jatuh, begitu hingga aku belajar dan mencari tahu bagaimana cara memanjat, perlahan ku paham dan makin berada semakin diatas, sayangnya diatas kini sudah tak ada buah yang tersisa, tersadar, ku hanya bisa turun dan bersedih karenanya, merasa pulang dengan tangan hampa padahal kini ku bisa memanjat..
"Merasa tak mendapatkan apa2 dan tercerca karena yang didapat tak terindra mata"
Kini kuhanya dapat tetap setia menunggu dan tidak makin terjatuh, walaupun hanya bisa kupandangi dan kuraih secara nyata terindra, kutelah bertambah secara jiwa. Meski tak melangkah maju, tetap bertahan disana tanpa terjatuh dan bisa bangkit sudah luar biasa. Mungkin sayapku hilang berguguran bersamaan saat terjatuh, mengejar kesempurnaan dengan perlahan hanya kesusahan yang terasa..
Kini ku menunggu dipinggiran oase, menjaganya tetap bersih dan suci, mengabdi bukan untuk diri, memberi air pada mereka yang lewat dengan kehausan ditengah kegersangan pemikiran dan pemahaman..
Belum dapat kupergi dan tak pula kuingin mengotorinya dengan diriku, kujaga diriku darinya hingga ku sadari sayapku yang hilang kembali, untuk terbang menuju cahaya diujung dunia