Monday, April 7, 2014

Sebuah berjuangan melawan usia

Setelah lama ku tinggal dijakarta.. aku kembali lagi ke solo..

Kepulangan kali ini terasa berbeda dari biasanya, karena memang saat itu aku sedang dalam perenungan panjang untuk mencari sebuah arti dari kekinian dan masa depan..

Sesampainya di stasiun balapan seperti biasa, penumoang yang baru turun disambut oleh banyak orang menawarkan moda transportasi mereka, ada becak, ada ojek dan ada pula taksi. Tak seperti biasanya, karena efek dari mencoba mencari insight dari sekitar, aku mendapati beberapa hal, yaitu:

1. Mereka yang menawarkan becak lebih bersemangat dan menunggu paling depan dan sigap membawakan barang bawaan penumpang, sedangkan yang menawarkan ojek ada dilini belakangnya diikuti orang yang menawarkan kendaraan mobil.

2. Usia yang lebih tua dengan keriputnya ditambah otot-otot ditubuh yang kekar  milik para tukang becak, bahkan beberapa sudah berambut putih. Dari mereka dapat kurasakan semangat juang yang tinggi dan vitalitas mencari nafkah. Sedangkan yang lain selain tukang becak terlihat lebih santai dan terkesan agak sombong bagiku.

3. Orang yang menawarkan becak biasa lebih humble dan lebih baik secara rata2 dibandingkan ojek ataupun kendaraan mobil.

4. Dan dikarenakan pengemudi becak ini sudah punya pengalaman yang panjang dan klo naek becak lebih nyaman dan bisa menikmayi pemandangan juga dapat cerita dari zaman ke zaman dan khazanah kehidupan yang cukup komprehensif

Kala itu karena sudah over budget untuk pulkam jadi saya memilih naik bis dan dilanjutkan dengan berjalan kaki, saat menunggu bis datangpun aku melihat seorang nenek yang menjual kripik belut, dia menawarkan pada tiap2 orang untuk membeli dagangannya, walaupun jalannya sudah agak sulit tapi terlihat dari raut wajahnya dan suaranya yang masih sangat bersemangat dan tutur katanya baik dengan bahasanya.

Saat itu aku tertegun karena dijakarta atau didepok banyak yang malah , memilih untuk mengemis bahkan ada yang menjadi profesional dengan itu.

Setelah itu akupun berjalan melihat sepanjang jalan solo, banyak yang berubah dibandingkan saat masih sekolah dulu, dan entah mengapa jadi makin terasa maju dan ekonominya meningkat. Tapi saat setelah itu masuk ke dalam pemukiman atau jalan2 kecil pemandangan tampak berbeda, dibalik gedung gedung megah nan mewah terdapat rumah2 yang biasa dan ada beberapa bagiannya belum ditembok, tak jauh dari situ aki melihat seorang nenek tua skitar 70an membawa karung berukuran sebesar tubuhnya diatas punggungnnya yang bungkuk, jalannya pincang tapi dengan langkahnya ia tidak memilih untuk diam dan mencoba mandiri.

Setelah itupun aku berpikir, aku yang masih cukup muda, punya tenaga dan sumber daya tapi malah terlena oleh waktu, tidak banyak berjuang dan banyak berpangku tangan menikmati yang terberi. 

.B. Lets create something worth of our youth time!! ./b.



No comments:

Post a Comment